AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

SEJARAH DESA LEWOINGU, KAMPUNG EPUTOBI

terbit: 08 Mei 2007
OLEH: Bpk. Drs. Yakob Dere Beoang

   
Lewoingu berasal dari dua akar kata, lewo dan ingu. Lewo, kata bahasa Lamaholot (bahasa daerah setempat), berarti kampung. Sementara ingu diduga berasal dari bahasa asing, bukan bahasa Lamaholot. Akar kata ini kemungkinan pertama berasal dari kata bahasa Jawa inja yang berarti inang. Maklumlah suku-suku yang mendiami desa Lewoingu umumnya berasal dari Sina Yawa, maksudnya Cina dan Jawa.  Kemungkinan ini juga berdasarkan fakta sejarah bahwa orang Lewoingu sering disebut ema-bapa atau inang (orangtua) oleh orang-orang di sekitar, baik yang disebut sebagai Patibeda (orang Leworook) dan Aringanaang (orang Tenawahang) maupun orang-orang lain dari Boru, Hewa, Kokang, Wodong dan Sukutukang. Kemungkinan kedua, akar kata ingu berasal dari kata inyu atau inyo sebagai perubahan dari kata ninyo (Portugis) dan ninyo (Spanyol) yang berarti anak laki-laki kecil. Kemungkinan ini didasarkan pada cerita bahwa di daerah ini pernah ditemukan dan diasuh seorang bayi laki-laki oleh Botabewa dan Nihorehing.

Bertolak dari arti akar kata di atas, maka Lewoingu secara harafiah mempunyai dua arti. Pertama, kampung yang menjadi inang, pengasuh atau ema-bapa atas kampung-kampung lain di sekitarnya. Kedua, kampung, tempat ditemukan seorang bayi laki-laki yang kemudian menamakan dirinya Gresituli Keropong Ema.

Sementara itu, kata Eputobi juga berasal dari dua akar kata yaitu, epu dan tobi. Epu, kata bahasa Lamaholot yang mempunyai dua arti. Pertama, berkumpul, bersatu. Kedua, tempat pertemuan orang-orang, baik yang tampak (riil-fisik) maupun tak tampak, dalam bentuk magis. Sedangkan tobi juga berasal dari kata Lamaholot yang berarti asam. Karena itu, secara harafiah, Eputobi berarti tempat bertemu dan berkumpulnya orang-orang baik secara riil maupun secara magis di sekitar pohon asam. Sekarang, tempat itu berlokasi antara rumah bapak Lambert Kumanireng di Tenggara, bapak Wilhelmus Witak Manuk di Timur; bapak Subang Kumanireng di Barat Laut, bapak Laurens Kweng di sebelah Barat Daya, dan alm. Bapak Laba Kumanireng di sebelah Selatan.

Desa Lewoingu atau kampung Eputobi seperti halnya desa atau kampung lain mempunyai sejarah tersendiri. Ia ada sekarang dengan masa lalunya. Tulisan ini mau menggali sejarah desa Lewoingu, mengedepankan situasi masa lalu. Bukan sekadar dikenang, tetapi terutama mengangkat nilai-nilai, keutamaan-keutamaan atau kearifan orang setempat pada masa lalu untuk diolah dan dikembangkan pada masa kini demi kemanusiaan di masa depan.

Untuk memudahkan sidang pembaca, nukilan sejarah ini dibuat dalam lima periodisasi. Pertama, dari pesebaran menuju Sarabiti, Lewomuda dan Lewohari. Kedua, dari Sarabiti, Lewomuda dan Lewohari menuju Dung Bata dan Dung Tanah, Lewowerang dan Lewoleing. Ketiga, dari Lewowerang dan Lewoleing menuju Lewolaga. Keempat, dari Lewolaga menuju Eputobi dan sekitarnya. Kelima, dari Eputobi menuju desa gaya baru Lewoingu.

Periode pertama: Pesebaran menuju Sarabiti, Lewomuda dan Lewohari

Periode ini ditandaai dengan tersebarnya orang-orang dari Sina Yawa. Konon terjadi peperangan di Sina Yawa. Orang yang tidak suka dan yang takut akan akibat peperangan itu lari dan mengungsi ke daerah-daerah lain. Ada yang mengungsi ke arah Timur dan tersebar di daerah yang sekarang disebut Lewoingu. Menurut cerita di daerah ini sudah ada penduduk asli (Ile yadi) yakni Metinara Kopong Todoh yang terlahir dan mendiami Asirani atau Ile Hinga. Bagi penduduk asli, mereka yang datang ke wilayah ini disebut pendatang atau tenamao, yakni orang-orang yang datang dengan perahu (tena=perahu dan mao=terapung). Kelompok ini tidak datang serempak melainkan bertahap.

Pendatang pertama adalah Werong Hegong Pito' Getang. Konon mereka datang dari laut, dari Sogebayo dan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Suatu ketika mereka masuk dan tinggal di tanah mewu ekang merek, di sebelah Ile Beleeng, wilayah Leworook. Karena musibah air bah di tempat ini, mereka berpindah ke areal Lewohong di wilayah Waiua. Kemudian berpindah dan menetap di Sarabiti. Keturunan Werong Hegong sampai saat ini dikenal dengan suku Wungung Kweng.

Pendatang kedua adalah Pusi' Bera dan Subang Ile. Keduanya berasal dari Sina Yawa. Dari sana keduanya berpindah-pindah tempat. Salah satu tempat persinggahan adalah Ile Muda, gunung di sebelah utara Ile Lewotobi, antara Nobo dan Hokeng. Dari sini keduanya berpindah lagi ke arah Timur. Suatu ketika mereka tiba dan menetap di suatu tempat yang diberinya nama Muda Matang. Maksudnya, di tempat baru ini mata (Lamaholot: matang) mereka bisa melihat Ile Muda, tempat persinggahan sebelumnya. Muda Matang ini kemudian dan sampai sekarang disebut Lewomuda, dekat Riang Gomi. Di tempat baru inilah Pusi' Bera menikah dengan Knato, keturunan Werong Hegong dari Sarabiti dan melahirkan Bota Bewa. Keturunan Pusi' Bera sampai sekarang ini dikenal dengan suku Lamatukang. Sementara keturunan Subang Ile sampai sekarang dikenal dengan suku Soge Making.

Pendatang berikutnya adalah Subang Pulo dan Ebe' Laka. Kedua orang ini pun berasal dari Sina Yawa. Seperti pendatang sebelumnya mereka pun berpindah-pindah tempat. Suatu ketika mereka tiba dan menetap di Hokeng Beleeng. Di sini mereka ditimpa musibah air bah (belebohng lebo). Keduanya mengungsi ke Bota Deing, kemudian berpindah lagi ke Huka'. Karena tidak betah di sini mereka hijrah lagi ke Bugarianeng, kemudian berpindah lagi dan menetap di Lewohari. Kampung ini sebelumnya dihuni oleh paji Watangpao. Di Lewohari ini terjadi kawin mawin dan anak pinak. Subang Pulo menikah dengan Gunung dari keturunan Subang Ile yang tinggal di Lewomuda. Keduanya tidak memperoleh keturunan. Setelah Gunung meninggal Subang Pulo menikah lagi dengan Hia, keturunan Pusi' Bera. Sementara Ebe' Laka kawin dengan gadis Balamaking dari Lamika dan melahirkan tiga orang anak laki-laki: Buga, Nuho dan Liku. Nuho kemudian kawin dengan Bota Bewa, anak Pusi' Bera dan Knato. Keturunan Subang Pulo sampai sekarang dikenal dengan suku Kumanireng Blikololong. Sementara keturunan Ebe' Laka sampai kini dikenal dengan suku Kumanireng Blikopukeng.

Inilah orang-orang dan suku pendatang gelombang pertama yang menetap di wilayah sekitar Asirani atau Ile Hinga. Suku Ile yadi yakni Koteng dan Amalubur, keturunan Metinara Kopong Todoh menyebut kampung-kampung yang dihuni para pendatang itu Lewoleba ('solo lewoleba burak larang gawe'), yakni kampung para pendatang.
Patut dicatat bahwa perkawinan antara pemuda dari Lewomuda dan gadis dari Sarabiti, antara pemuda dari Lewohari dan gadis dari Lamika atau gadis dari kampung-kampung sekitar menjadi titik tolak dari perjanjian dalam urusan kawin mawin saat berdirinya korke, rumah adat, sekaligus menjadi dasar pilihan saat perkawinan antar suku dalam perkembangan selanjutnya hingga kini.

Periode kedua:
Dari Sarabiti, Lewomuda dan Lewohari menuju Dung Bata dan Dung Tanah,Lewowerang dan Lewoleing.

Periode ini diawali dengan penemuan seorang bayi laki-laki oleh Bota Bewa, istri Nuho Rehing. Konon, Nuho Rehing, putera kedua Ebe' Laka yang menetap di Lewohari menikah dengan Bota Bewa, anak Pusi' Bera dan Knato dari Lewomuda. Keduanya tidak dikaruniai anak.
Nuho Rehing dan Bota Bewa bekerja dan iris tuak di Kuwu', daerah sekitar lapangan sepak bola sekarang. Saat berada di tempat kerja inilah sang istri mendengar tangisan bayi yang baru lahir di sela-sela bunyi burung elang dan raungan musang. Bota Bewa bergegas ke lokasi tangisan bayi. Di tempat itu, sekitar Tanah Beto, ia menemukan seorang bayi laki-laki yang masih dibungkus dengan ari-ari. Ia segera menggendong si bayi mungil itu dan membawanya ke Kuwu', tempat masak arak. Bersama Nuho Rehing, sang suami, anak ini dibawa ke Lewohari, tempat tinggal mereka.

Waktu terus berlalu. Anak ini bertambah besar. Kepadanya Nuho Rehing menyerahkan busur, anak panah, lembing dan parang. Dengan senjata-senjata itu si anu mulai berburu, ke arah gunung di sebelah Utara, kemudian ke Barat. Saat memasuki Ile Beleeng, ia memanah seekor rusa jantan (ruha lota) dan serentak berteriak kegirangan: "Gresituli Keropong Ema". Sejak itulah anak remaja temuan dan asuhan pasangan Nuho Rehing-Bota Bewa mendapat namanya: Gresituli Keropong Ema.

Gresituli bertambah besar. Ketika tiba saatnya ia menikah dengan Nogodua dari Lewokoli dan Ketopiwoli dari Lewokaha, kedua gadis dari perkampungan paji. Perkawinan Gresituli dan Nogodua melahirkan Dalu dan Sani. Sementara dengan Ketopiwoli, Gresituli mendapatkan seorang pria, Doweng dan beberapa orang saudarinya. Setelah kawin dan beranak pinak Gresituli tidak tinggal bersama Nuho Rehing dan Bota Bewa di Lewohari. Ia juga tidak tinggal bersama mertuanya di Lewokaha atau Lewokoli. Ia memutuskan untuk menetap di Lewowato, lokasi di sekitar Tanah Beto bersama isteri dan anak-anaknya.

Keputusan Gresituli ini menjadi bahan perbincangan dan pertanyaan orang-orang dan suku-suku yang menetap di Asirani (Koteng dan Amalubur), Lewohari (Kumanireng Blikopukeng dan Blikololong), Lewomuda (Lamatukang dan Sogemaking) dan Sarabiti (Wungung Kweng). Mengapa Gresituli tidak tinggal di Lewohari? Ada apa di balik keputusan ini?
Untuk mendapat jawabannya, ketujuh suku di atas berembuk dan memutuskan untuk membangun tujuh rumah di sekitar Ile Asirani. Setelah dibangun ketujuh suku bersepakat mengutus orang dari sukunya menghuni rumah-rumah baru tersebut. Maksud mereka jelas. Penghuni rumah-rumah itu mengamati gerak-gerik Gresituli serta isteri dan anak-anaknya. Memperhatikan sikap dan perbuatannya untuk dapat ditarik kesimpulan mengenai alasannya menetap sendiri di Lewowato.

Karena sudah berpenghuni, maka lokasi baru di Asirani, tempat dibangun ketujuh rumah itu disebut Dung Bata. Siasat orang-orang dan suku-suku dari Dung Bata dan kampung-kampung sekitar rupanya diketahui Gresituli. Ia tidak menjauh. Ia malah berpindah semakin mendekati lokasi baru, Dung Bata. Dari Lewowato, si Keropong Ema berpindah ke Oring Penutuung, kemudian bergeser ke Weo Lamagapang. Dari sini, ia berpindah lagi, membangun rumah dan menetap di Dung Tanah. Lokasi ini terletak di sebelah Selatan, tidak jauh dari Dung Bata.
Di Dung Tanah inilah Gresituli bersama anak-anaknya: Doweng, Dalu dan Sani membangun korke, rumah adat. Usai membangun mereka memberi nama tempat domisili itu Lewoleing, yang dalam bahasa Lamaholot berarti kampung (lewo) yang terletak di kaki (leing) gunung. Di sini pun terjadi kawin mawin dan anak pinak. Dalu menikah dengan Muko Wungung Kung dari Lamika. Keturunannya hingga kini disebut Doweng Oneeng. Doweng menikah dengan Peni Belaamang Hera dari Wolo. Keturunannya sampai sekarang disebut Lewoema. Sementara Sani menikah dengan Kene', keponakannya sendiri, anak saudaranya Doweng. Perkawinan Sani dan Kene' melahirkan Raga dan Boli.

Di Lewoleing Gresituli juga membagi tugas di antara ketiga anaknya berkenaan dengan upacara sembelihan di rumah adat. Doweng memegang bagian kepala (koteng) dan bagian perut sampai ekor (keleng) dari binatang sembelihan. Dalu mendapat tugas sebagai pembawa atau pembaca doa sembelihan (marang mukeng), pemegang hurit atau parang dan pembunuh (belo howe) binatang serta pemegang tuak, arak dan sirih pinang.

Oleh karena Sani belum mendapat tugas, maka Gresituli serta Dalu dan Doweng memberinya tugas untuk menjadi pengatur, penengah atau pendamai (ulu wai') bagi orang-orang di Dung Bata, kampung tetangga di sebelah Utara. Sani menerima tugas ini. Bersama isteri dan kedua anaknya, Raga dan Boli, mereka berpindah ke Dung Bata. Karena kedua kakaknya berdomisili di Lewoleing, maka Dung Bata, tempat domisili Sani diganti nama dengan Lewowerang, bahasa Lamaholot yang berarti kampung (lewo) yang terletak di atas (werang) gunung. Dengan demikian jadilah kedua kampung bertetangga Lewowerang dari Dung Bata (Tung Bata) dan Lewoleing dari Dung Tanah (Tung Tanah).
Di Lewowerang, Sani dan kedua anaknya mengumpulkan orang-orang yang lebih dahulu menetap. Mereka adalah Metinara Kopong Todoh, Werong Hegong, Pusi' Bera dan Subang Ile, Subang Pulo dan Ebe' Laka. Semua mereka berunding dan membangun rumah adat (koke) di Lewowerang. Terjadilah pembagian tugas di antara mereka berkenaan dengan tanggung jawab terhadap tiang utama bangunan (rie matang) dan upacara-upacara sembelihan di rumah adat.

Dalam soal tanggung jawab terhadap tiang bangunan disepakati bahwa tiang sebelah kanan (rie limang wanang) yakni tiang utama yang dipajang di sebelah Utara bagian depan bangunan adalah tanggung jawab Boli (Kebeleeng Keleng). Sementara tiang pada ujung bagian belakang adalah tanggung jawab Subang Pulo (Kumanireng). Tiang sebelah Utara bagian Barat adalah tanggung jawab Metinara (Kebeleeng Koteng), sementara tiang pada ujung sebelah Selatan menjadi tanggungan Lewohayong. Tiang kedua di sebelah Utara menjadi tanggung jawab Raga (Atamarang). Sementara ujungnya di sebelah Selatan adalah tanggungjawab Metinara. Tiang ketiga di sebelah Utara adalah tanggung jawab Pusi' Bera (Lamatukang). Sementara ujungnya di sebelah Selatan menjadi tanggungan Werong Hegong (Wungung Kweng). Kap atau penutup atap menjadi tanggungan suku Wungung Padung.

Dalam upacara-upacara sembelihan di rumah adat, Metinara mendapat tugas sebagai pemegang kepala (Koteng) binatang sembelihan. Maklum, dialah anak tanah, penduduk asli atau Ile yadi. Boli mendapat tugas sebagai pemegang perut sampai ekor (Keleng) binatang sembelihan. Raga menjadi pembaca atau pembawa doa sembelihan (Ata marang). Pusi' Bera menjadi pemegang alat potong atau hurit sekaligus pemotong binatang (belo howe). Werong Hegong sebagai penuang dan pengedar tuak/arak sekaligus pemegang dan pengedar sirih pinang. Sedangkan Subang Ile sebagai pembawa suara atau perintah (tmoka' blada').

Selain pembagian tugas dan tanggung jawab di atas disepakati pula soal tatanan berkaitan dengan urusan kawin mawin (painapang). Metinara Kopong Todoh, Werong Hegong dan Subang Ile menjadi saudara, kakak beradik (kaka' aring). Mereka menjadi ina ama atau blake dari Pusi' Bera dan sebaliknya menjadi bine ana' atau opu dari Subang Pulo dan Ebe' Laka. Pusi' Bera menjadi ina ama dari Subang Pulo dan Ebe' Laka.
Dalam perkembangan selanjutnya, setelah tatanan sosial terbentuk di Lewowerang dan Lewoleing, datang lagi gelombang pengungsi baru. Mereka datang dari Kroko Pukeng dan daerah-daerah lainnya. Mereka yang datang kemudian ini adalah orang yang menurunkan suku Lewoema Corone Oronai, Lewohayong, Wungung Kehule dan Wungung Beoang. Semua mereka ini datang dan diterima oleh Kebeleeng. Mereka diberi tempat dan menetap di Lewowerang dan Riang Beleeng sesuai kemampuan dan peran masing-masing.

Periode ketiga:
Dari Lewowerang-Lewoleing menuju Lewolaga

Periode ini ditandai dengan perang dan perpindahan penduduk. Kedua peristiwa ini berhubungan kausal. Yang satu menjadi sebab bagi yang lain. Atau yang satu mengakibatkan yang lain. Perang menjadi sebab dari perpindahan. Sebaliknya perpindahan menjadi akibat dari perang.
Dalam kurun waktu kurang lebih 21 tahun yakni antara 1913-1934 terjadi tiga gelombang perang. Pertama, Leworook melawan Kompeni, sebutan orang setempat bagi penjajah Belanda antara tahun 1913-1914. Dalam perang itu orang Lewowerang dan Lewoleing terpecah. Sebagian berpihak pada orang Leworook dan melawan Kompeni. Dan sebagian lagi berpihak pada Kompeni melawan Leworook.

Kelompok pro Kompeni dijadikan perantara dan 'alat' melawan Leworook. Melalui kelompok pro inilah Kompeni mulai memainkan jurus perang. Jurus yang digunakan ialah mengurangi kekuatan musuh dengan memindahkan kekuatan pendukung. Berkedok keamanan dan kelancaran pembayaran pajak, Kompeni dengan kuasanya memindahkan orang Lewowerang dan Lewoleing ke Lewolaga. Cara ini ternyata tidak berhasil. Jurus ini tidak efektif. Umumnya orang Lewowerang dan Lewoleing menolak untuk berpindah dengan pertimbangan praktis-ekonomis. Pindah ke Lewolaga mempersulit pekerjaan masyarakat setempat. Semua mereka adalah petani dan lahan garapan mereka ada di depan mata. Memindahkan mereka berarti menjauhkan mereka dari lahan garapan dan ternak piaraan mereka yang umumnya tidak dikandangkan.

Sadar akan kegagalan cara ini Kompeni mulai memainkan jurus baru. Sasarannya musuh utama dan musuh pendukung. Kampung Leworook, Lewowerang dan Lewoleing dibakar oleh Kompeni. Jurus ini berhasil. Sebagian orang Leworook, Lewowerang dan Lewoleing mulai berpindah. Proses perpindahan terjadi antara tahun 1914-1917. Sejak saat itu ada orang Lewowerang dan Lewoleing tinggal di Lewolaga. Yang lain tetap di kampung lama dan di epu'- epu' serta riang-riang sekitarnya.

Perang kedua, antara Lewowerang-Lewoleing melawan orang Lewokluo tahun 1928. Oleh orang-orang setempat perang ini lazim disebut perang Pedo. Pedo adalah nama sebuah areal (newa) di daerah perbatasan tanah Lewowerang-Lewoleing dan Lewokluo yang menjadi tempat sengketa. Kedua belah pihak tampak mempertahankan areal ini sebagai miliknya. Akibatnya, perang menjadi pilihan saat itu.
Untuk menghindarkan perang yang berkepanjangan menyoal tapal batas tanah ini, raja Larantuka memerintahkan orang Lewowerang dan Lewoleing yang masih ada di kampung lama untuk berpindah ke Lewolaga. Perintah baginda raja didengar dan dilaksanakan. Masyarakat setempat berpindah ke Lewolaga, kecuali keluarga Ledung Wungung Kweng dari Lewowerang dan Ratu Lewoema dari Lewoleing. Perpindahan masyarakat tersisa terjadi antara tahun 1928-1930. Dengan ini semua orang Lewowerang dan Lewoleing telah berpindah kecuali keluarga-keluarga di atas.
Lokasi sekitar pastoran Lewolaga sekarang adalah daerah domisili orang Leworook dulu. Sementara lokasi yang membentang dari Utara ke Selatan antara kali dan jalan menuju sungai saat ini adalah wilayah huni orang Lewowerang. Sedangkan areal antara Waibeta di Selatan, kali di Barat, serta jalan raya di Utara dan Timur merupakan lokasi hunian orang Lewoleing tempo dulu.

Meski tinggal menetap di Lewolaga setiap hari orang Lewowerang dan Lewoleing selalu berada di epu'-epu' dan riang-riang sekitar kampung lama. Juga di Wairunung dan sekitarnya. Di tempat-tempat ini mereka bekerja kebun, menanam kelapa dan pisang, iris tuak, masak arak, piara ternak, dan lain-lain. Mereka tinggal di sini selama berhari-hari, berminggu-minggu bahkan sampai berbulan dan bertahun.
Pada vigili Natal, 24 Desember 1934 berkobar lagi perang antara Lewowerang dan Lewoleing melawan Lewokluo. Kali ini menyangkut tapal batas tanah di areal Lawepekek atau Newabukeng. Pasalnya, klaim satu pihak bahwa pihak lain telah menggarap sampai melanggar batas. Seluruh kekuatan Lewowerang dan Lewoleing baik yang tinggal di Lewolaga dan Wairunung maupun di epu'-epu' dan riang-riang sekitar kampung lama dikerahkan dalam perang yang berlangsung kurang lebih 11 jam ini.

Buntut dari perang ini delapan (8) orang Lewowerang dijerat hukuman penjara lima (5) dan delapan (8) tahun. Frans Sepulo Wungung Beoang, Puho Lewohayong, Bala Wungung Kehule, Dalu dan Sare Keleng serta Naya Koteng mendapat hukuman lima (5) tahun penjara dari raja, Controleur dan Gezaghebber. Mereka ini adalah kelompok anak muda saat itu yang menjadi pemberi informasi langgar batas dan biang peperangan. Sementara Kebaku Atamarang dan Sinyo Lamatukang mendapat ganjaran delapan (8) tahun penjara. Kedua orang ini terjerat pasal saksi dusta. Selama kurang lebih tujuh (7) bulan mereka menghuni rumah tahanan atau bui di Larantuka. Selebihnya mereka jalani di Ende. Tahun 1939 mereka dibebaskan dan kembali ke kampung halaman, meninggalkan salah seorang rekan seperjuangan yakni Naya Koteng yang telah menjadi debu tanah karena meninggal dalam masa tahanan di Ende.

Periode keempat:
Dari Lewolaga menuju Eputobi dan Sekitarnya serta Riangduli.

Kalau pendekatan dalam periode sebelumnya adalah kekuasaan oleh raja dan penjajah dengan mengembangkan pola hubungan dominasi yang berlandaskan paksaan, otoritas dan pengaruh, maka periode ini mulai dengan pendekatan pastoral oleh misionaris Serikat Sabda Allah, Societas Verbi Divini (SVD) dengan mengembangkan pola hubungan kemitrasejajaran yang berlandaskan kebutuhan dan musyawarah. Adalah P. Herman Kremers, SVD (+1973). Beliau ketika itu menjadi pastor di Lewolaga. Ia adalah pemikir dan pejuang dalam memindahkan orang Lewowerang dan Lewoleing di Lewolaga kembali ke asalnya.

Tahun 1932 misionaris ini mulai berpikir tentang berdirinya suatu kampung. Pemikirannya riil. Bahwa di tempat yang dilaluinya dalam perjalanan pastoral (patroli atau tourne) terdapat kelompok-kelompok orang. Mereka hidup dan bekerja dalam kelompok-kelompok. Masing-masing kelompok mempunyai seorang kepala. Mereka bekerja kebun. Menanam padi, jagung, kacang dan umbi-umbian. Mereka menanam dan memelihara pisang dan kapas. Mereka mengiris tuak dan menyuling arak. Mereka juga memelihara dan menjaga ternak.
Imam asal Jerman ini mulai mewujudkan pemikirannya. Ia membicarakan kemungkinan ini dengan kepala-kepala kelompok. Mereka adalah Nuba Atamarang, Klui Keleng dan Dalu Koteng. Ia pun membangun percakapan tentang kemungkinan berdirinya suatu kampung dengan tokoh-tokoh lain seperti Nama Werang dan Kota Wungung Kung.

Pembicaraan demi pembicaraan digalang. Muncul kontroversi. Ada yang mendukung dan ada pula yang menolak. Ada pro dan ada kontra. Kelompok pendukung yang dimotori P. Herman Kremers dan bapak Nuba Atamarang punya alasan. Bahwa faktanya sudah ada kelompok-kelompok orang. Dengan kepala kelompok masing-masing mereka hidup dan bekerja, menata hidup keluarga dan kelompok, membuat epu'-epu' yakni tempat berkumpul, berunding sekaligus tempat minum dan masak arak. Bahwa tinggal tetap di Lewolaga secara moral memprihatinkan. Betapa tidak. Lewolaga itu teluk yang aman. Banyak pencari ikan secara rutin menyinggahi teluk ini untuk menukar hasil tangkapan dengan padi, jagung, pisang, kelapa, umbi-umbian, sirih pinang, dan lain-lain. Sering pula terjadi pergaulan bebas dan pelanggaran moral antara pria pendatang yang umumnya beragama Islam dengan wanita setempat yang beragama Katolik dan agama asli.
Lebih dari itu. Daerah domisili di Lewolaga terlalu jauh dari lahan garapan, pusat kehidupan masyarakat. Tinggal di Lewolaga sementara iris tuak, masak arak, kerja kebun dan pelihara ternak di epu'-epu' dan riang-riang di sekitar kampung lama, Lewowerang dan Lewoleing. Di samping itu tinggal di Lewolaga mempersulit orang Lewowerang dan Lewoleing untuk mengontrol tapal batas tanah yang sedang menjadi ajang peperangan dengan orang Lewokluo.

Sementara kelompok kontra yang dimotori kepala Klui Keleng dan Dalu Koteng serta Nama Werang dan Kota Wungung Kung juga punya alasan pembenaran. Bahwa pemerintah atasan dalam hal ini kakang dan raja belum merestuinya. Maklum, mereka cuma kepala kelompok, kepala kampung. Dalam struktur pemerintahan mereka adalah bawahan. Mereka musti mendapat perintah, petunjuk dan arahan dari atasan. Dalam hal mendirikan kampung baru mereka belum menerima perintah atau petunjuk. Kakang Anton sendiri tidak merestuinya. Ia bahkan memberi ancaman bila kampung baru sudah terbentuk, pindah dari Lewolaga.
Lebih dari alasan itu. Membuka kampung baru sama dengan meninggalkan pisang dan kelapa yang sudah ditanam di Lewolaga, Wairunung dan sekitarnya. Membuka kampung baru, pindah dari Lewolaga sama juga dengan menghadapkan masyarakat, penduduk kampung baru pada kesulitan pokok yaitu air.

Waktu terus berlalu. Kelompok pro terus saja berusaha. Hasilnya, pada tahun 1935 pemerintah dalam hal ini raja Larantuka merestui berdirinya kampung baru di areal (newa) milik Kumanireng - Lamatukang dan Atamarang - Lewoema. Bendera Belanda dikibarkan di lokasi baru sebagai tanda restu. Lokasi perkampungan baru itu diberi nama Eputobi. Raja pun mulai membangun satu rumah untuk dihuni sementara oleh aparatnya dalam memantau situasi di Eputobi. Sejak saat itu orang Lewowerang dan Lewoleing yang tinggal di Lewolaga kembali ke Eputobi. Ada juga yang kembali ke Lewowerang, kampung lama, ke Riang Beleeng dan Riang Gomi. Dan orang Lewoleing yang tinggal di Lewolaga kembali ke Riangduli dan Lewoleing, kampung lama. Sementara orang Leworook di Lewolaga pun kembali ke kampung asal mereka.

Dengan demikian secara resmi sudah ada kampung baru yakni Eputobi dengan Duli masih sebagai riang (Riangduli). Eputobi dari Lewowerang dan Riangduli dari Lewoleing. Saat itu yang menjadi kepala kampung di Eputobi adalah bapak Mado Keleng dan bapak Witak Koteng. Ketika itu, keduanya meminta kesediaan Fransiskus Sepulo Wungung Beoang untuk mengajar agama Katolik kepada orang-orang kampung yang belum beragama. Maklum, orang ini baru kembali dari kota Ende dan rupanya sedikit berpengalaman dalam urusan agama. Permintaan dipenuhi. Sepulo menjalankan tugasnya sampai masa tua. Kepala Mado diganti oleh anaknya Yoseph Torangamang Keleng (+ 2004) dan kepala Witak diganti oleh keponakannya Yakobus Koli Koteng.

Lima tahun setelah resminya kampung Eputobi tepatnya tahun 1940 muncul pemikiran untuk membangun gedung gereja. Selama ini bangunan darurat yang berlokasi di sekitar rumah Martinus Meti Amalubur sekarang dan di sekitar rumah alm. Pius Dalu Keleng digunakan sebagai tempat ibadat dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Persiapan digalang oleh kepala kampung dan guru Sepulo sebagai guru agama. Tiap keluarga mengumpulkan satu blik padi setiap musim panen. Setelah matang semua persiapan, pada tahun 1950 gereja pertama didirikan di Eputobi. Fondasinya tidak dibuat dari bahan semen, melainkan dari campuran pasir putih (yang digali di Riangduli) dengan kapur yang dibuat sendiri dari bahan karang laut. Kala itu P. Theodorus Rozing, SVD (+1978) menjadi pastor di Lewolaga.
Meski sudah berpindah masih ada satu hal tersisa, ialah sekolah. Yang satu ini masih tetap di Lewolaga. Anak-anak Lewowerang dan Lewoleing, anak-anak Eputobi dan Riangduli tetap bersekolah di Lewolaga. Sementara ada pula yang bersekolah di Tuakepa. Sekolah pada kedua tempat itu berlangsung sekitar enam (6) tahun, antara 1935-1941.

Tahun 1942 anak-anak Eputobi dan Riangduli yang bersekolah di Tuakepa dipindahkan ke Lewolaga. Pasalnya, kesulitan air di Tuakepa. Sejak saat itu semua anak Eputobi dan Riangduli mengenyami sekolah dasar di Lewolaga. Pagi ke Lewolaga, siang setelah sekolah kembali ke Eputobi dan Riangduli. Keadaan ini berlangsung sampai tahun 1957.
Pada 1 Agustus 1958 mulai dibuka Sekolah Rakyat (SR) di Eputobi, paralel dari SR di Lewolaga. Guru pertama yang mengajar adalah anak Lewotanah sendiri, Theodorus Luka Lamatukang (pa' Theo). Sedangkan murid-murid pertama tercatat 18 orang. Mereka itu antara lain: Anton Dalu Lewoanging, David Wungung Kweng, Raga Sogemaking, Rofinus Wungung Padung, Tobias Torangamang Keleng, Yustina Jawa Atamarang, Yosef Lalang Lamatukang, Yoseph Nabu Kumanireng, Katharina Kweng, Theresia Lamatukang dan Maria Lito Koteng (Ice).
Dua tahun kemudian yakni tahun 1960 SR paralel di Eputobi diubah statusnya menjadi SR otonom, lepas dari SR di Lewolaga. Guru yang mengajar setelah itu antara lain Kris Kopong Sili. Saat itu bapak Bernardus Sani Atamarang menjadi kepala kampung dan Gregorius Geroda Wungung Kweng menjadi wakilnya.

Periode kelima:
Dari Eputobi dan Sekitarnya menuju Desa Gayabaru Lewoingu

Periode ini ditandai dengan pembentukan desa gaya baru dengan penataan struktur pemerintahan menurut aturan yang berlaku dan pembangunan sarana prasarana umum. Tahun 1968 secara resmi terbentuk desa gaya baru yang diberi nama Lewoingu. Desa gaya baru ini terdiri dari Riangduli dan Eputobi. Penduduk desa ini masih tersebar. Sebagian besar di Eputobi dan Riangduli. Beberapa keluarga di Lewowerang dan Lewoleing (kampung lama). Dan ada pula keluarga-keluarga yang menetap di Riang Beleeng dan Riang Gomi.

Kepala desa pertama adalah bapak Yohanes Ola Kumanireng. Wakilnya, Yosef Bei Lewoema dari Riangduli. Sekretarisnya adalah Dominikus Doweng Keleng dari Eputobi. Masa kepemimpinan mereka berlangsung selama kurang lebih lima (5) tahun, 1968 - 1973.
Beberapa kejadian patut dicatat dalam masa ini. Masyarakat setempat mulai membangun fondasi sekolah dasar di lokasi baru, Lewobui, lokasi sekolah sekarang ini. Pembukaan lahan di Tregeebang (1973) dekat Bama yang diwarnai dengan kontroversi dan ketegangan soal keabsahan kepemilikan areal ini dengan orang Bama. Dalam masa ini pun dilakukan survey ke sumber mata air dan persiapan lainnya untuk pemasangan jaringan pipa air. Selain itu dibangun sebuah balai desa yang saat itu diberi nama lumbung desa. Bersamaan dengan itu dikerjakan pula dua sumur pompa di Waiua atas kerjasama dan bantuan P. Herman Kremers, SVD, yang saat itu menjadi pastor di paroki Bama. Menjelang akhir pemerintahan kepala desa ini, beberapa keluarga yang berdomisili di Riang Beleeng dan Riang Gomi berpindah ke Eputobi.

Tahun 1974 terjadi pergantian kepala desa dan stafnya. Yohanes Ola Kumanireng diganti oleh Petrus Pole Lamatukang. Sekretarisnya adalah Pius Keba Lewoema. Pius hanya beberapa tahun menjalankan tugasnya, karena ia ke Malaysia, maka Pius Keluang Koteng diangkat menjadi sekretaris antar waktu. Masa kepemimpinan mereka mencapai 19 tahun dalam empat periode, 1974 - 1993.

Dalam masa pemerintahan mereka tercatat beberapa hal penting. Pendropingan dan pemasangan jaringan pipa air (1974) atas bantuan dan kerjasama dengan P. Arnd van der Burg, SVD (+ 1992). Pembukaan jalan raya jurusan Eputobi - Leworook dan Eputobi - Tuakepa tahun 1974. Lanjutan pembangunan gedung sekolah dasar dengan mengembangkan swadaya masyarakat mulai dari mengusahakan papan dan balok dari Tregeebang saat areal ini digarap sejak tahun 1973. Pemakaian gedung sekolah dasar baru tahun 1975 di Lewobui, pindah dari lokasi lama di Wolomeang, di lokasi SD lama, lokasi TKK sekarang. Saat itu Pius Dalu Keleng (+) menjadi kepala sekolah. Pada tahun yang sama keluarga terakhir Lewoleing atas nama Ratu Lewoema pindah ke Riangduli. Setahun kemudian, tepatnya 16 Juli 1976 air masuk pertama kali di desa Lewoingu melalui jaringan pipa yang dipasang sejak tahun 1974.

Selain hal-hal di atas, dibuka pula pasar Eputobi pada hari Jumad 25 September 1979, saat Mohamad Tupen Sabon menjadi kepala Perwakilan Titehena yang berkedudukan di Lewolaga. Keluarga terakhir di Riang Beleeng (Bapak Pehang Keleng) berpindah ke Eputobi tahun 1983. Pemekaran dan pembukaan SD baru di Riangduli tahun 1986. Sejak saat itu anak-anak dari Riangduli yang bersekolah di Eputobi selama 28 tahun sejak 1958, berpindah ke SD Riangduli. Kepala sekolah pertama adalah Yosef Torangamang Lewohayong. Tahun 1992 dibuka Taman Kanak-Kanak, TKK 'Demon Tawa' di Eputobi, tepat di atas lokasi SD lama.

Patut dicatat bahwa dalam pemerintahan bapak Petrus Pole Lamatukang, dua orang Tenaga Kerja Sukarela - Badan Urusan Tenaga Kerja Sukarela Indonesia (TKS- BUTSI) membantu pemerintah desa. Yang datang pertama adalah Tajudin Abu, BA dari Sulawesi Selatan. Beberapa tahun ia tinggal bersama dengan kepala desa dan kemudian menikah dengan putri pertama kepala desa. Setelah Tajudin kembali ke Sulawesi Selatan datang lagi ibu Erlyn Koro Djoh dari Sumba Timur. Ia pun tinggal dan bekerja di desa selama kurang lebih tiga tahun.

Tahun 1994 terjadi lagi pergantian kepala desa. Pius Keluang Koteng menggantikan Petrus Pole Lamatukang. Sekretarisnya adalah Damasius Kumanireng. Masa kepemimpinan mereka adalah 8 tahun, 1994 - 2002. Pada masa ini masyarakat mulai membangun gedung gereja baru (1994) dengan dukungan dan bantuan P. Konrad Kebung, SVD. Terjadi pula penataan dan pemeliharaan parit dan lorong desa. Dibangun pula dua unit rumah semi permanen untuk guru. Yang satu di TKK dan yang lain di SD. Selain itu masyarakat membangun bak-bak penampungan air hujan.

Tahun 2002 pemilihan kepala desa baru. Mikhael Torangamang Kelen dipilih masyarakat menggantikan Pius Keluang Koteng. Sekretarisnya Anosetus Singo Lamatukang. Kurang lebih setahun kemudian Damasius Kumanireng menggantikan Anosetus sebagai sekretaris desa hingga kini.
Dalam masa ini terjadi semenisasi lorong ke gereja dan pasar yang telah diprogramkan kepala desa periode sebelumnya. Pengaspalan jalan raya Eputobi - Tuakepa dan Eputobi - Leworook juga terjadi pada masa ini. Juga, pemotongan pohon kapok dan penataan taman di pertigaan jalan raya, pintu gerbang memasuki desa Lewoingu. Tanggal 28 Mei 2005 Riangduli, bagian dari desa Lewoingu resmi menjadi desa persiapan. Namanya desa Dung Tanah Lewoingu. Kepala desa persiapan adalah Yosef Pala Hayong Doniwato.
Demikian nukilan sejarah desa Lewoingu sejak awal hingga saat ini.

Catatan Kaki:

1. Dung Bata berasal dari dua akar kata: Tung berarti berkumpul dan Bata dengan dua kemungkinan arti. Pertama, mencabut. Kedua, susunan batu yang menyerupai tembok, kota. Dengan demikian Dung Bata berarti berkumpulnya orang-orang di tempat yang ditata dengan susunan batu menyerupai tembok. Atau berkumpulnya orang-orang yang sudah 'tercabut', berpindah dari tempat-tempat lain di sekitar.

2. Dung Tanah berasal dari kata bahasa Lamaholot, tung tanah berarti tempat berkumpulnya tanah saat banjir dan longsor, karena lokasinya lebih rendah, di bawah kaki Ile Asirani.

3. Dalu bertukar nama dengan Doweng sebagai suatu siasat untuk mengalahkan musuh 'menang atang' yakni sebutan orang setempat bagi roh jahat yang menjadi pemenang atau penguasa.

4. Lewoema adalah nama suku asli. Suku Lewoleing yang sekarang sebenarnya berasal dari suku asli ini.

5. Controleur adalah kepala perwakilan penjajah Belanda di daerah jajahan setingkat kabupaten. Sementara Gezaghebber adalah administrator atau wakil dari Controleur untuk wilayah yang lebih kecil.

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS