AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

 

 

 KE ARAH PENDIDIKAN YANG LEBIH HUMANISTIK
(Sebuah refleksi di awal tahun ajaran baru - OPINI POS KUPANG 19 JULI 2008)

Oleh : Zefirinus K Lewoema, S. Pt
---------------------------
PNS pada Kantor Camat Wulanggitang, Flores Timur. Alumnus Centre for European Studies, Universiteit Maastricht, 2007. Saat ini sedang menempuh pendidikan master dalam bidang Management of Agro-ecological Knowledge and Social Changes di Wageningen University and Research Centre, The Netherlands
---------------------------------------

SEORANG guru muda dan tegap ditugaskan oleh kepala sekolah mengatur siswa-siswi baru. Mereka semua berbaris rapi. Pengumuman demi pengumuman bernada nasihat dan sedikit intimidasi mulai bergulir. Para siswa senior sibuk membersihkan halaman sekolah. Mulai dari menyapu hingga menebas rumput. Seorang siswa baru yang berambut gondrong mendadak kaget ketika dipanggil sang guru. Dua kali tamparan keras plus eksekusi gunting di rambut sang siswa pun segera membentuk tanda silang di kepala siswa malang yang tidak sempat menjelaskan alasan memanjangkan rambut. "Selamat datang di sekolah ini," ujar sang guru muda. 

 

Itulah sekelumit kisah hari-hari pertama masuk sekolah. Tidak semua siswa pernah mengalami kisah traumatis ini, namun umumnya mereka punya memori yang kuat untuk melakukan silent voting dan melabeli guru-guru dengan label : guru 'killer', guru favorit, guru cerdas, guru seksi, dan masih banyak label lainnya yang memberi kenangan tersendiri dalam dunia pendidikan kita. Di Pulau Jawa, para guru memanfaatkan para siswa senior untuk melakukan 'plonco' dengan alasan meningkatkan disiplin. Padahal, sebetulnya indoktrinasi senioritas-yunioritas dimulai dari sini. Struktur feodalitas sosial di sekolah pun terbentuk tanpa disadari. Beberapa perguruan tinggi pun menerapkan cara-cara yang sangat keras hingga mengakibatkan kasus tahunan : kematian beberapa mahasiswa baru dalam masa orientasi awal. Siapa yang salah?

Membangun komunikasi

Saya mengalami dua kali masa penerimaan mahasiswa di Negeri Belanda. Hari pertama di Universiteit Maastricht, kebetulan saya masuk dalam group Indonesia. Sebuah papan bertuliskan "Selamat Datang" mengaduk perasaan rindu akan tanah air nun jauh di sana. Kopi dan kue fla serta berbagai hidangan khas Propinsi Limburg menghapus suasana tegang antara mahasiswa Indonesia dengan nasionalisme yang menggebu-gebu di hadapan mantan penjajah masa lalu tersebut. Malam harinya kami sempat makan malam dengan Rector Magnificus universitas tersebut. Rupanya dia tahu kalau Indonesia itu bukan hanya Jakarta, lantas dia berujar "Well, I used to be in your country and I preferred the rural area. It is very beautiful. I think it is a good idea for spending more time outside Jakarta". 

Kami tersentak, rupanya orang ini sangat mengerti intercultural dialog. Dia mampu menghantar suasana yang lebih seimbang dibandingkan dengan kata sambutan resmi yang sebetulnya sudah kurang diminati. Ketika saatnya kami harus meninggalkan kampus tersebut, acara wisuda pun berlangsung sederhana namun sangat berkesan. Setiap wisudawan dipanggil satu per satu ke depan menerima 'diploma'. Biodata wisudawan tersebut dikomentari secara luwes dan ditutup dengan kesan-kesan indah dari sang guru terhadap wisudawan tersebut diakhiri dengan kalimat "and good luck for your future life". Setelah kami dibikin setengah teler dengan bir Belanda, permainan bowling sebagai simbolisasi "memecahkan dan mencairkan" segala pertikaian yang sempat terjadi pun tidak kalah mengesankan. 

Menurut pendapat saya, pendidikan yang humanistik adalah pendidikan yang mampu menyiapkan suasana setara. Suasana setara yang dimaksudkan di sini adalah suasana ketika seseorang (murid, siswa, bangsa lain) merasa nyaman karena dihargai (oleh guru, atasan, senior, tuan rumah). Tidak ada indikasi pembedaan warna kulit, tingkatan ekonomi, status sosial, dalam sebuah setting pendidikan. Lebih lanjut, pendidikan yang humanistik menekankan pendekatan dari hati ke hati. 

 

Suatu ketika, saya berkesempatan mengunjungi open air museum di Arnhem, Ibu kota Propinsi Gelderland yang berbatasan dengan Negara Jerman. Pemandu museum pendidikan rakyat menceritakan bahwa Belanda adalah negara di Eropa yang paling akhir meninggalkan sistim "tangan besi" dalam mendidik murid. Mereka mulai berubah ketika muncul kesadaran bahwa anak didik perlu diperlakukan dengan kasih sayang. Pendekatan psikologis ternyata memiliki peranan vital dalam perjalanan dunia pendidikan. 
Di Indonesia cara ini sudah diterapkan di seminari-seminari dengan program 'ratio', sejenis konseling pribadi dengan pembimbing rohani. Biasanya, setelah melakukan 'ratio', sang murid pun merasa mendapat energi baru untuk memulai aktivitas belajar dan aktivitas lainnya dalam suasana batin yang lebih baik.

Lain lagi suasana ketika saya sudah resmi masuk Wageningen University and Research Centre. Hari pertama dipenuhi dengan berbagai acara minum-minum bersama. Tidak banyak momen-momen protokoler yang membikin suasana tegang. Semua mengalir begitu saja. Makan malam pun disediakan dalam gaya khas Propinsi Gelderland, kawasan terluas pemasok kuda-kuda pasukan kehormatan militer Belanda. Professor kepala seperti mendongeng tentang liku-liku kehidupan akademis di kampus pertanian terbesar sekawasan Eropa tersebut, dan mengakhirinya dengan kalimat "we struggle and we survive". Kalimat tersebut seakan menjadi obat mujarab di kala semangat mulai kendor karena beratnya tantangan pendidikan di luar negeri. 

 

Belakangan saya tahu kalau ternyata setting suasana pun sangat membantu dalam menyampaikan bahan-bahan yang fiktif dan kadang membosankan. Bouman (1999) menamakan cara ini "entertainment-education'. Ide dasarnya adalah mengemas pesan-pesan pendidikan dalam bentuk hiburan. Tentu saja ide ini bukan hal yang baru. Penyampaian sesuatu yang mengundang debat dan konflik pun bisa dikemas dalam bentuk "entertaiment-education". Bahkan, menurut Singhal dan Rogers (1999), 'entertainment education' mempengaruhi pembelajaran secara aktive dan perubahan sikap dan perilaku.

Sosok guru yang humanistik 

Ketika dunia dihentak gelombang pergeseran nilai-nilai kehidupan, muncullah gerakan mengembalikan sistim pendidikan ke sebuah setting yang lebih manusiawi. Pendidikan diharapkan memotivasi manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Lebih lanjut, pendidikan perlu menghantar seseorang untuk memahami siapa dirinya dan bukannya membentuk manusia sesuai forma yang telah direncanakan. Peserta didik dibiarkan mengenal dan menjadi dirinya sendiri. Ketika dia sudah mengenal dirinya, tentu dia bisa menentukan pilihan dan arah hidupnya. Maka sangat naif jika seorang ayah yang berprofesi sebagai dokter mengharapkan anaknya menjadi dokter, padahal anak tersebut tidak terlalu mahir di bidang eksakta. Atau, seorang ibu yang berprofesi akuntan menginginkan anak-anaknya juga menjadi akuntan, padahal mereka sangat tidak berminat dalam mengelola usaha dan uang. 

Begitu pula di sekolah. dalam konteks pendidikan yang humanistik, seorang guru dituntut memiliki hubungan emosional yang positif dengan anak didik. Kehangatan dan kelemahlembutan adalah sikap utama yang perlu ditonjolkan. Daripada menjadi seorang pendikte isi buku di dalam kelas, sebaiknya seorang guru menyajikan materi-materi secara imajinatif serta kreatif dalam memfasilitasi proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan menjajaki kesan-kesan para siswa akan proses pembelajaran yang difasilitasi oleh guru bersangkutan. 
Di samping itu, guru pun perlu menaruh kepercayaan bahwa para murid pun bisa mempelajari bahan-bahan yang telah didiskusikan bersama, memberikan pujian kepada siswa yang berhasil mendapat nilai bagus, serta memotivasi siswa yang agak lamban dalam menyerap pelajaran. 

Sistem pembelajaran yang humanistik

Ibarat sebuah kapal, lembaga pendidikan (apa pun visi dan misinya) tentu memiliki arah dan tujuan yang jelas. Di mana-mana menjamur berbagai lembaga pendidikan dengan latar belakang yang beragam jika dilihat dari namanya. Ada yang terkesan nasionalis karena memakai label negeri, ada pula yang terkesan religius karena memasang nama agama di belakangnya, seperti SMAK (Sekolah Menengah Atas Katolik), UII (Universitas Islam Indonesia), dan sebagainya. 

Namun demikian, konteks lembaga pendidikan tersebut sebetulnya tidak bisa ditebak hanya dengan membaca kover luarnya saja. Perlu penelitian lebih lanjut, apakah sekolah itu benar-benar mengajarkan nilai-nilai Kristiani karena memakai nama Katolik? Apakah universitas tersebut benar-benar kumpulan orang Muslim karena memakai nama Islam? 

 

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan itu, secara universal, apa pun nama dan bentuk lembaga pendidikan tersebut, perlu diterapkan beberapa elemen berikut ini : 1. Partisipasi. Dalam dunia pendidikan, partisipasi mampu menghidupkan suasana yang interaktif. Dua belah pihak, guru dan siswa, perlu saling peduli, saling sharing, melakukan negosiasi, dan sama-sama bertanggung jawab atas proses dan output pendidikan. Hal ini penting agar di akhir tahun, ketika terjadi kegagalan studi, maka tidak terjadi saling tuding antara para pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan (guru, siswa, orangtua siswa, ahli kurikulum, NGO, dan masyarakat luas). 2. Integrasi. Di sini, perlu ditekankan interaksi, interpenetrasi, serta integrasi pemikiran, perasaan dan tindakan. Membangun manusia yang seutuhnya berarti membangun manusia yang konsisten dalam ketiga hal tersebut.3. Keterkaitan. Bahwa materi yang diajarkan perlu memiliki hubungan yang erat dengan kebutuhan hidup dasar peserta didik serta berpengaruh nyata untuk mereka, baik secara emosional maupun secara intelektual. 4.Transparansi dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Para siswa pun berhak mengetahui bahwa pada akhir pelajaran, mereka harus memahami hal-hal tertentu yang mampu meningkatkan pengetahuan mereka. Dari sini, semakin nyata bahwa siswa perlu tahu ke mana mereka diarahkan dalam sebuah pelajaran. Banyak guru kurang menekankan bagian ini, dan langsung masuk ke "inti" pembahasan, padahal hal ikhwal menjelaskan tujuan adalah termasuk hal "inti" pula. 5. Terakhir, tentu saja tujuan sosial dari pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah sarana menyiapkan manusia untuk untuk berkarya dalam masyarakat, maka pendidikan perlu menekankan penempaan akal dan mental peserta didik, agar mampu menjadi sosok intelektual yang berbudaya. 

 

Membangun sistem pendidikan yang humanistik memang tidak mudah. Namun, karena berkaitan dengan persiapan sumber daya manusia, maka pendidikan yang humanistik sudah merupakan keharusan. Pendidikan yang humanistik memerlukan guru yang profesional, murid yang partisipatif, orangtua yang selalu berdialog dengan guru dan anak didik, serta masyarakat luas yang memiliki kontrol sosial yang ketat terhadap proses pendidikan. *

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS