AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

 

KEKERASAN MEDIA DAN TANGGUNGJAWAB KITA

Oleh: Daniel Boli Kotan

Terbit: 09 Mei 2008

 

 Daniel Boli Kotan

Staf Komkat KWI, Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara Jakarta, Penulis Buku-Buku Pendidikan  Agama Katolik 

Di penghujung November 2006, kita dikejutkan oleh berita kekerasan akibat pengaruh tayangan acara televisi. Reza, seorang siswa SD di Bandung tewas setelah di-smackdown oleh tiga orang teman sebayanya.   

Diceritakan bahwa ketiga anak kecil ingusan itu menghajar Reza dengan meniru aksi gulat bebas smackdown yang saban hari  ditayangkan sebuah tv swasta saat itu. Kasus serupa kembali terjadi pada awal tahun 2007 di sebuah SD Katolik di kawasan Jakarta Timur. Seorang siswa akhirnya meninggal dunia setelah beberapa hari menahan rasa sakit di uluhatinya  akibat di-smackdown rame-rame oleh beberapa temannya yang diantaranya adalah pelajar perempuan yang masih bau kencur itu. Kasus-kasus ini akhirnya bersamar oleh kasus penganiayaan hingga tewas sesama  mahasiswa di kampus IPDN atau STPDN Jatinangor yang tak pernah berujung hingga kini.

Menurut pengamat media, acara gulat bebas yang dikemas dengan nuansa hiburan ini digemari di seluruh dunia, tanpa batas umur. Itu artinya dari usia balita hingga manula, orang-orang sangat menggemari acara adu jotos yang tidak jarang berakhir dengan kematian salah satu patarung atau minimal pingsan  karena KO dan berdarah-darah pula.

Selain smackdown, kita masih menjumpai  jenis tontonan adu jotos lainnya, seperti tinju, silat, kungfu, thai boxing yang dikemas rapi dalam film-film laga. Ini belum termasuk acara-acara olah raga  tinju yang disiarkan televisi setiap minggu. Bahkan kini tontonan-tontonan adu otot itu dikemas dalam bentuk permainan games yang banyak bertebaran di mall-mall atau toko-toko swalayan atau tempat-tempat   umum yang banyak dikunjungi masyarakat.

Bila menengok sejenak peristiwa sejenis di luar Tanah Air, pada tgl. 20 April 1999, dua siswa, Dylan

 

 

 Goliat lawan Daud??

 
Klebold (18 tahun) dan Eric Harris (17 tahun), melakukan penembakan secara brutal dengan senapan mesin pada jam sekolah di Columbine High School, Littleton, Colorado, Amerika Serikat. Bergaya cowboy, kedua remaja ini memuntahkan peluru dari senapan mesinnya di kantin,  di ruang kelas, lorong koridor, dan teras depan sekolah. 12 siswa dan seorang guru tewas terbunuh. Lebih dari 20 orang luka-luka. Kedua pelaku pun bunuh diri  dengan menembak diri usai serangan membabi buta. Pembantaian ala cowboy itu terjadi kembali berkali-kali di negerinya uncle Sam itu pada tahun-tahun terakhir ini dan jumlah korban semakin lebih banyak.

Hasil survey menunjukkan bahwa para pelaku penembakan di AS itu ternyata menggemari acara-acara kekerasan televisi. Mereka adalah pencandu berat game-game action dan fighting. George Gerbner, pencetus teori Kultivasi, melihat pengaruh kekerasan yang ditayangkan televisi bagi khalayaknya.

       Hasil penelitiannya menunjukkan efek kultivasi, atau penanaman realitas, pada penonton heavy viewers.  Penonton yang tergolong pecandu berat televisi ini menganggap bahwa realitas televisi tak berbeda dengan realitas di dunia nyata. Artinya, mereka menganggap bahwa pemberitaan perang, kriminalitas, dan konflik para pesohor di televisi ialah realitas dunia yang sesungguhnya. Televisi tidak sekadar memberikan pengetahuan, atau melaporkan realitas peristiwa. Lebih dari itu, televisi berhasil menanamkan realitas bentukannya ke benak penonton.  

Siapa sesungguhnya heavy viewers ini? Mereka adalah pencandu berat televisi, yang menonton televisi sedikitnya 4 jam setiap hari. Bandingkan dengan keseharian kita. Bukan tidak mungkin kita menghabiskan waktu lebih dari 4 jam di depan televisi. Anak-anak kita, terutama balita atau anak-anak yang tak punya kegiatan di luar sekolah, kerap jadi lebih banyak belajar dari televisi. Mereka jarang belajar dan berkembang dari orang tuanya, atau dari pengalamannya bersentuhan langsung dengan dunia nyata.

 

   berjam-jam  si kecil  bisa mempelototi tv ini!.
Bagaimana dengan pengaruh "kekerasan" dalam program televisi terhadap anak-anak di Indonesia? Selain kasus Reza di atas, media massa beberapa kali memunculkan pemberitaan seputar kriminalitas yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Misalnya pencabulan terhadap anak-anak yang pelakunya masih di bawah umur. Mereka mengaku perbuatannya diinspirasi oleh VCD porno.

Pihak media memang bisa berkilah bahwa apa yang mereka tampilkan dalam tayangan kriminalitas berbeda jauh dengan VCD porno-televisi sebagai medium berita bukan VCD player atau VCD rental. Tapi, bukankah tidak sedikit pula adegan percintaan sejenis yang juga ditampilkan di media lewat program hiburan, informasi, atau film-film yang luput dari sensor media? Dan bukankah kini banyak saluran TV asing  yang bisa ditangkap dengan parabola sehingga luput dari sensor apapun? Kita sadar bahwa chanel-chanel TV asing itu menyediakan program apa saja, termasuk yang berbau erotis dan mesum atau porno serta kriminal  menurut kaca mata budaya kita.

Jika agresivitas seksual bisa diinspirasi oleh adegan yang tampak di layar kaca dari manapun sumbernya bukan tidak mungkin jika tayangan informasi kriminalitas di televisi juga menginspirasi modus operandi untuk bertindak serupa! Kalau dahulu banyak yang takut melihat pertumpahan darah, dengan adanya gejala desensitisasi kekerasan, maka darah dan kekerasan menjadi hal yang biasa. Anak-anak ramai-ramai menonton pertunjukan kekerasan ini, kadang malah turut berpartisipasi. Kita patut bertanya, pelajaran berharga apa kiranya yang bisa diperoleh dari pertunjukan kekerasan semacam itu?

Berharap bahwa pihak media mau berbaik hati mengurangi tayangan bertema kekerasan di televisi sama saja dengan menggantang asap di atas perapian. Stasiun televisi jelas tidak mau merugi. Investasi yang mahal harus dikembalikan secepatnya, keuntungan yang diperoleh pun harus berlipat ganda. Bagaimana dengan instrumen hukum? Idem ditto.

Kontroversi seputar RUU Penyiaran jelas memperlihatkan bahwa dalam pemakaian ruang publik pun, media massa tidak mau diatur. Apalagi dalam pembatasan isi siaran, yang kerap dimaknai secara sepihak sebagai pembatasan kebebasan pers.

          Televisi sudah merasa cukup menjalankan produksi pemberitaan dan informasi (bertema
   
 adegan seperti  inilah yang suka ditiru anak-anak kita!  
kriminalitas) sesuai dengan kaidah teknis objektivitas berita, tanpa mau repot-repot memikirkan dampak etis pemberitaannya. Kalau ada yang sampai terpengaruh, media massa tidak akan pernah mau disalahkan. Salahkan saja penontonnya, kenapa mau saja menonton, dan kenapa bisa sampai terpengaruh! Pihak media merasa sudah cukup bertindak etis dengan memasang logo PG (Parental Guide, dengan bimbingan orang tua) bertuliskan pembatasan usia penonton pada acara-acara "keras". Padahal, pada kenyataannya,cara itu sungguh mustahil untuk mengontrol pembatasan usia penonton. Menilik realitas semacam itu, penonton sendirilah kini yang harus mewajibkan diri untuk mengkritisi tayangan televisi, sehingga tidak terseret arus dominan realitas televisi (berikut gaya hidupnya).Tak ada salahnya,dan tidak ada ruginya berpuasa dari tontonan televisi yang tidak mencerdaskan. 

    Berkaitan dengan peran media yang dapat memprovokasi kekerasan dalam hidup masyarakat, Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial (DKKS) mengeluarkan sebuah dokumen penting tentang “Etika dalam Komunikasi”. Dari sisi kebudayaan, DKKS menegaskan bahwa: “Para pengkritik kerap kali mencela kedangkalan dan selera rendah dari media,meskinpun media tidak harus suram dan membosankan, tetapi media hendaknya tidak harus mencolok mata dan merendahkan diri. Jangan berdalih dengan mengatakan bahwa media mencerminkan standar populer; karena media dengan secara kuat  mempengaruhi standar populer dan demikian juga mempunyai kewajiban serius untuk mengangkatnya dan bukannya membuatnya menjadi merosot. Seharusnya media menjelaskan persoalan yang kompleks dengan cara hati-hati, dengan benar, namun media pemberitaan menghindari atau menyederhanakannya. Media yang bersifat hiburan menyampaikan sajian yang merusak dan merendahkan martabat manusia, termasuk mengeksploitir seks dan kekerasan.  

Sungguh tidak bertanggung jawab untuk mengingkari atau menolak kenyataan bahwa pornografi dan kekerasan yang sadis memerosotkan seksualitas, merongrong hubungan antar-manusia, memeras individu, lebih-lebih kaum wanita dan kaum muda, meremehkan perkawinan dan kehidupan keluarga, memupuk sikap anti sosial dan melemahkan jaringan moral dalam masyarakat itu sendiri.  

Kita Perlu Bersikap Kritis!

Kita perlu menyadari bahwa tidak semua tayangan hiburan berguna bagi penonton, maka diperlukan sikap kritis dan kesadaran dalam bermedia. Hendaknya semua sadar bahwa dalam bermedia kita menjaga dan mengembangkan kemartabatan kita sebagai manusia, Citra Allah. Kita sadar bahwa media membawa banyak dampak yang sangat besar dan luas, baik yang bersifat positif-konstruktif, maupun yang berdampak negatif-destruktif. Menghadapi semua dampak itu maka kita harus memiliki sikap kritis, mandiri dan kreatif.

    

   
 

 nonton tv rame-rame di kampung

Sikap kritis berarti tahu membedakan; mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk,  mana yang berguna dan mana yang tidak berguna. Mungkin saja sikap kritis ini masih sulit dihayati oleh anak-anak kita, sebab baik pendidikan di rumah maupun di sekolah kita mengkondisikan anak-anak untuk tidak bersikap kritis. Kita cenderung menuntut sebaliknya yaitu mereka lebih baik bersikap mendengar dan mentaati otoritas. Ada stereotip: anak yang baik adalah anak yang diam dan taat. Bersikap kritis terhadap orang tua dan guru sering dianggap kurang ajar. Bagaimanapun juga kiranya sudah jelas bahwa dijaman globalisasi ini, dimana arus pelbagai informasi membanjir lewat pelbagai media tanpa saringan, perlulah anak-anak  kita mulai dilatih untuk bersikap kritis.

 

 

Catatan:

Sumber tulisan:  dari berbagai sumber dan pengamatan penulis.

Ilustrasi : dari website; Yahoo.com dan Google.com

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS