AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

RENUNGAN:

NEW: ARNOLD JANSSEN

PRIORITAS HIDUP

PANTANG MUNDUR

DOA DAN KERJA

MENYALIBKAN EGO

MISA PEMBUKAAN...

MISSIONARY...

 

MISA  PEMBUKAAN  TAHUN  SEKOLAH STFK LEDALERO

Bacaan: Ulangan 26: 1 – 10;  Mt, 1: 1-17

Tema: Berakar dalam Tradisi, Terbuka terhadap Masa Depan

I. Pendahuluan

          Pada awal tahun akademik 2007/2008 ini, kita berkumpul di sini untuk bersyukur kepada Tuhan atas pelbagai anugerah dan rahmat yang telah kita terima. Kita ingin memulai tugas dan pengabdian kita dengan rasa syukur sambil memohon bantuan Yang ilahi untuk senantiasa mendampingi, melindungi dan menguatkan kita dalam perjalanan tugas dan karya pengabdian ini. “Berakar dalam Tradisi, Terbuka terhadap Masa Depan”, sebagai tema perayaan kita ini, kiranya mewarnai seluruh tugas dan karya pelayanan kita, seluruh proses belajar-mengajar kita selama tahun pelajaran  yang akan berjalan ini.

II. Bacaan-bacaan KS hari ini sangat menarik dan secara langsung menyentuh tema utama liturgi kita hari ini. Perikope bacaan pertama yang diambil dari Kitab Ulangan mengingatkan saya akan pengalaman masa lampau di rumah pendidikan ini. Selama masa belajar sebagai mahasiswa kami sering berkarya di tengah umat (paroki wairpelit, Nita, Koting, dll) dan betapa kerap, pada musim panen, kami diundang ke rumah atau kebun umat untuk menikmati hasil perdana kebun mereka (istilah: lele da’an besi ubun: jagung muda dan pucuk labu). Umat merasa terberkati dan berbahagia kalau hasil pertama kebun mereka diberikan atau dinikmati oleh para imam, biarawan/ti, dan orang-orang ini adalah nota bene simbol kehadiran Tuhan yang memberkati dan memberikan mereka hasil yang baik. Pada masa sekarang ini kita hampir tidak lagi mendengar orang berbicara tentang ini, tapi kalau kita ke kampung-kampung, tradisi ini masih cukup baik tersimpan. Tradisi budaya dan kepercayaan yang orang kita miliki seperti ini tentu mempunyai kaitan dengan apa yang dipercayai oleh umat Israel dalam perjalanan sejarah manusia, seperti apa yang diungkapkan dalam kitab Ulangan hari ini.

Dalam Kitab Ulangan ini, kita mendengar bagaimana Israel mengenangkan dan merenungkan perjalanan sejarah mereka pada masa lampau; bahwa nenek moyang mereka adalah orang Aram, suku pengembara. Mereka mengembara menuju Mesir dalam jumlah kecil dan tinggal disana sebagai orang asing (yang tidak punya hak-hak sosial-politik dalam kota atau polis).

Namun bangsa yang kecil ini kemudian menjadi besar dengan jumlah anggota yang banyak. Mereka berkeluh-kesah karena ditindas dan dianiaya oleh orang Mesir, namun Yahweh mendengarkan mereka dan membawa mereka keluar dari Mesir, ke tanah terjanji yang berlimpahkan susu dan madu. Dan Yahweh ini berpesan kepada Israel:” Ketika Engkau memasuki negeri yang diberikan kepadamu, dudukilah dan berdiamlah di sana..olahlah tanah itu dan persembahkanlah hasil pertama tanah itu kepada Tuhan dan jadikanlah tempat itu sebagai tempat kehadiran Tuhan dan di sana pula nama Tuhan dibesarkan.” Israel sungguh menyadari bahwa Tuhan adalah sumber, akar dan pusat hidup mereka. Tanpa Yahweh (Tuhan), tanpa akar, mereka tidak mungkin hidup.

Penginjil Mateus menampilkan silsilah Yesus Kristus, suatu genealogi yang bagi orang Yahudi merupakan sesuatu yang natural dan menarik kalau mau membahas mengenai riwayat atau sejarah hidup seseorang. Dalam genealogi itu Mateus mencatat 42 keturunan sampai pada Yesus, yang dijelaskannya dalam tiga bagian utama, dan masing-masingnya terdiri dari 14 keturunan. Abraham sampai David, David sampai pembuangan Babel, Pembuangan Babel hingga Yesus Kristus. Tiga bagian ini dilihat juga sebagai tiga fase besar dalam sejarah keselamatan. Silsilah ini tidak hanya penting karena melaluinya kita dapat menelusuri sejarah hidup Yesus, tetapi ia juga merupakan gambaran atau simbol kebesaran dan kejatuhan manusia, kemenangan dan kegagalan, terang dan gelap, jatuh dan bangunnya manusia sebagai umat Tuhan.

·       Abraham ŕ David: Abraham dikenal sebagai bapak iman, bapak bangsa dan pusat, pokok asal Jesus menurut pohon keturunan. David tampil sebagai seorang raja Israel yang terkenal. Ia membangun Israel sebagai bangsa. Lewatnya orang Israel menjadi penguasa dunia. Di sini yang mau ditampilkan adalah kebesaran sejarah masa lampau Jesus. Manusia diciptakan sebagai citra dan gambaran Allah dan karena itu ia secara esensial diciptakan untuk menjadi besar (man is created for greatness), baik dan bahagia.

·       David ŕ Pembuangan di Babylon:  Babylon menggambarkan kejatuhan, masa pembuangan atau pengasingan (exile), suatu malapetaka, disaster, tragedi yang membuat bangsa ini malu; Israel kehilangan harga diri sebagai bangsa. Manusia yang diciptakan untuk suatu kebesaran dan kebaikan kehilangan kemungkinan ini; ia menjadi hamba dosa dan kehendak bebasnya digunakan untuk menjauhkan diri dari Allah; ia menjadi tidak patuh kepada Allah yang senantiasa siap merangkulnya kembali.

·       Babylon ŕ Yesus Kristus: Melalui Jesus Kristus kita dibebaskan dari kuasa maut dan dosa, bebas dari perhambaan dan penindasan, tragedi dan disaster dan mengantar kita kepada kemenangan. Melalui Yesus kepercayaan dan rasa harga diri bangsa Israel yang hilang diperoleh kembali.

III. Beberapa pokok penting dapat kita, sebagai civitas academica, petik dan pelajari melalui tema dan bacaan-bacaan liturgis kita hari ini.

·       Allah adalah sumber, akar, dan pusat hidup kita. Tanpa akar ini kita tidak mungkin hidup dan bertumbuh. Ia juga dilihat sebagai arah dan tujuan akhir hidup kita. Allah ini mengungkapkan diri dalam Yesus, Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Tuhan adalah sumber dan asal segala sesuatu yang melingkupi kita, yakni tradisi, sejarah, kebudayaan, bahasa, agama dan kepercayaan, cara hidup dan pola berpikir, ideologi, dll. Dan kalau kita jadikan Tuhan sebagai sumber dan akar hidup kita, maka diri kita manusia (sebagai citra Allah dan mahkota ciptaan) juga menjadi pusat atau inti perkembangan dunia dan lingkungan di sekitar kita.

·       Tuhan adalah bapak segala bangsa dan memiliki hati yang luas untuk dapat menampung segala sesuatu. Ia mau supaya sebanyak mungkin manusia datang kepadanya dan diselamatkan. Karena itu dalam Tuhan kita dapat belajar untuk keluar dari diri dan lingkungan kita yang sempit. Kita tidak hidup sendirian atau hidup bagi diri kita sendiri. Manusia, sebagai pribadi, adalah bentukan dirinya sendiri dengan dunia dan manusia di sekitarnya. Lewat mengembangkan dunia sekitar dan membiarkan diri kita dibentuk oleh dunia itu, kita akan berkembang menjadi suatu ‘diri’ yang unik dan amat tertentu. Dengan cara ini kita menjadi matang dari hari ke hari. Dalam keterbukaan ini kita akan dengan gampang melihat masa depan kita. Tuhan tidak hanya kita imani pada masa lalu dan sekarang, tetapi juga pada masa yang akan datang.

·       Dalam sejarah hidup seorang manusia selalu terdapat light (terang) dan shadow (bayangan)- Yin dan Yan, ups and downs, sukses dan gagal silih berganti. Dalam proses belajar-mengajar kita juga banyak temukan situasi seperti ini. Liturgi hari ini justru mengajak kita untuk tidak berputus harap dalam pelbagai kesulitan yang kita hadapi; kita diajak untuk selalu coba bangun lagi kalau kita jatuh, tidak berputus asa kalau kita harus membuat ujian ulangan karena tidak lulus pada ujian pertama; kita diajak untuk senantiasa membangun motivasi kerja dan meningkatkan daya juang dan kenekatan kita.

Sebagai dosen, mahasiswa, pegawai dan karyawan/ti, sebagai umat Tuhan, mari kita meningkatkan penghargaan kita akan apa yang telah kita buat selama ini dan bersama-sama siap membenahi apa yang masih kurang dalam pelayanan dan pengabdian kita ke depan. Mari kita jadikan masa kini dan karya kita sebagai modal untuk masa depan yang lebih baik. Kita belajar melalui masa lalu kita, kita bekerja dan belajar dengan tekun sekarang ini untuk suatu karya di masa mendatang yang lebih baik dan penuh janji.

Konrad Kebung, SVD

01/09/07

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS